Mentari Tak
Pernah Tidur
Embun pagi basahi
rumput hijau
Kaumelangkah
semangat menuju ladang yang menunggu garapanmu
Tanpa penangkal
sinar matahari
Menyengat badan
dan menggoda keringatmu
Ketika
sang surya tepat di atas kepala
Kau
masih membungkuk
Ketika
mentari mulai bersembunyi
Baru
kaumanjakan tubuhmu yang semakin terlihat tak tegap
Beralaskan
tikar yang tak terlalu indah
Kauberbaring
melepas lelah
Meski
mentari tak lagi terlihat
Namun
mentariku tak pernah tidur
Selalu
pancarkan sinarnya
Anugerahi
hatiku yang kian bangga
Meski
matahari tak lagi menyilaukan
Cahayamu
tetap hidup di hatiku
Terangi
gelapnya hariku
Bundaku
yang ayu…
Jadilah
penunjuk arah bahagiaku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar