Izza
Sayang Mama
Memiliki wajah yang rupawan tak
selamanya bisa menjamin kebahagiaan bagi seorang wanita. Bagi sebagian wanita,
kecantikan fisik memang menjadi faktor utama yang menjadikannya bangga, tapi
tidak bagi seorang gadis berkulit putih keturunan Tionghoa, Izza. Memiliki
rambut panjang hitam yang selalu tergerai, mata sipit, hidung mancung, dan
serba-serbi kelebihan lainnya tidak menjadikan hari-harinya penuh warna cerah.
Sebaliknya, penuh awan mendung yang selalu menyelimuti hati kecilnya.
“Izza, ini ada opor buat kamu.
Dimakan, ya...” bu Tati memberikan bungkusan hitam dari tangannnya.
“Wah.. Bu Tati emang kokiku yang
paling mengerti,” jawab Izza sambil mengulum senyum di bibir tipisnya.
Sejak kecil, Izza sering dititipkan
ke bu Tati kalau mamanya sedang bekerja. Karena pekerjaan mamanya yang tidak
memungkinkan membawa Izza yang masih kecil, bu Tatilah yang menjadi
pengasuhnya. Tak aneh jika sampai sekarang bu Tati kadang masih memperlakukan
Izza seperti anak-anak, maklum ia sendiri tidak mempunyai anak sejak dua puluh
tahun menikah.
“Mamamu belum pulang?”
“Belum, Bu. Bukannya Ibu juga tahu
pekerjaan mama gimana? Pasti jam segini belum pulang, kan?”
“Ibu juga ngga habis pikir sama
mama kamu. Kenapa sih dia ngga berhenti aja dari pekerjaannya itu? Kan masih
banyak pekerjaan lain..”
“Izza juga mikirnya seperti itu,
Bu. Tapi Izza ngga bisa nglakuin apa-apa.”
“Terus mau sampai kapan kamu
sendiri kayak gini?:
“Maksud Bu Tati?”
“Kamu cari pacar lah... biar ada
yang nemenin kalau mama kamu lagi pergi.”
“Apaan sih Bu Tati ini? Izza kan malu...”
“Ibu kan juga pernah muda, Za...”
Dua anak manusia itu bersenda
gurau, tak terasa hari hampir berganti. Seperti biasa, bu Tati menemani Izza
sampai mamanya pulang, seperti hari itu.
Anak kupu-kupu malam, julukan yang
acapkali mendarat di telinga Izza. Geram, kesal, marah, kecewa, memang sering
dirasakan Izza, tapi ia merasa tak berdaya dengan keadaan. Hal itulah yang
membuatnya tak sebahagia gadis-gadis lain.
“Ma, mau sampai kapan Mama kaya
gini? Izza udah bukan anak kecil lagi, bukan anak yang belum mengerti waktu
diledekin teman-teman. Izza malu, Ma...”
“Eh, Izza... Kalau Mama ngga kerja,
kita ngga akan bisa makan dan kamu ngga akan bisa sekolah sampai sekarang.”
“Tapi kan masih banyak pekerjaan
yang lain, Ma...”
“Pekerjaan apa? Di kota sebesar
Jakarta ini ngga ada jaminan buat kebahagiaan kita kalau hanya mengandalkan
kejujuran. Lagian kamu ini, kaya orang baru aja. Semenjak papa kamu menghianati
Mama dan ninggalin kita, bagi Mama ngga ada keadilan di dunia ini. Jadi buat
apa Mama menjadi orang yang baik, sedangkan orang lain bisa jahat sama kita?”
Begitu bencinya mama pada papa Izza,
laki-laki yang membuat gadis manis itu tak pernah mengenal sosok ayah. Ia pergi
bersama wanita lain ketika Izza masih berumur tiga bulan, dan mulai saat itulah
mamanya menjadi wanita malam. Ia dididik menjadi gadis yang tak boleh percaya
dengan laki-laki, karena menurut mamanya semua laki-laki itu sama.
“Izza, foto siapa ini?” tanya mama
Izza sembari menunjukkan selembar foto yang ia temukan dari buku pelajaran anak
semata wayangnya itu, yang tak lain adalah foto Taufan.
“Sudah berapa kali Mama bilang,
kamu jangan pernah berhubungan sama yang namanya laki-laki. Yang ada kamu cuma
akan sakit hati.”
“Itu cuma foto kakak kelas yang Izza
suka, Ma. Dia cowok yang baik dan ngga seperti yang Mama katakan pada Izza...”
“Tau apa kamu tentang laki-laki?
Mama jauh lebih tau dengan semua pengalaman hidup yang Mama alami.”
“Pengalaman tiap orang itu ngga
sama, Ma... Kenapa sih Mama harus berpikiran seperti itu? Apa Mama ngga mau
Izza bahagia?”
“Mama sayang sama kamu, makanya
Mama nglakuin ini. Mama ngga mau kamu merasakan apa yang Mama alami. Sakit,
Za... sakit...” mama Izza mengelus dadanya, terlihat setitik embun yang akan
menetes dari pelupuk matanya.
“Sampai kapan pun Mama ngga akan
pernah ngizinin kamu pacaran.”
“Izza tau Mama sayang sama Izza,
tapi sampai kapan Izza akan seperti ini? Izza juga mau seperti teman-teman yang
lain.”
“Sekali tidak, tetap tidak.”
“Mama...”
Izza hanya bisa meratapi keadaan.
Ingin rasanya ia mengutuk dunia yang dirasanya tidak adil pada kaum lemah, kaum
yang teraniaya. Di satu sisi, mama adalah sosok pahlawan dalam hidupnya. Namun,
ia pun ingin merasakan seperti yang dicurhatkan teman-teman sekelasnya.
“Aku malu, Bu.”
“Kenapa harus malu, Za? Mungkin
trauma yang menyebabkan mama kamu jadi seperti itu. Dengan pengalamannya yang
pahit, mama kamu seolah ingin melampiaskan keke-salannya pada semua laki-laki.”
Dengan lemah lembut, Bu Tati mengelus rambut Izza yang kala itu terurai lurus.
“Mama pernah cerita, dia merasa
sakit hati dan mau balas dendam. Dengan menjadi wanita malam, mama akan
menghancurkan rumah tangga orang lain. Setelah itu, akan ada banyak wanita yang
merasakan rasa sakit hati yang pernah mama rasakan.”
“Hidup itu memang penuh cobaan dan
masalah. Yang penting, bagaimana kita harus menyikapinya. Kamu sabar ya,
sayang...” keduanya saling tersenyum.
“Apa yang harus Izza lakukan, Bu?
Izza bosan mendengar cemoohan teman-teman. Apalagi saat pembagian buku raport
kemarin, teman-teman ramai meledek karena waktu itu mama pakai pakaian seksi. Izza
ngga suka mama ditertawakan seperti itu, tapi mama ngga mau denger permintaan
Izza,” genggaman tangan dan pelukan Bu Tati sedikit menentramkan perasaan Izza.
Ketika Izza mencoba memberontak, mamanya
marah keras, bahkan Izza sampai dilarang untuk ke sekolah. Sudah hampir
seminggu ia tak masuk sekolah, hanya menghabiskan waktu dengan sepinya suasana
kamar. Bu Tati pun tak dapat berbuat apa-apa, karena kamar Izza dikunci ketika
mamanya tak ada di rumah.
“Kasian Izza, May.”
“Apa urusan Bu Tati bicara begitu?”
“Saya ingin tau keadaan Izza,
Tante.”
“Izza baik-baik aja”
“Udah berapa hari ini Izza ngga
masuk sekolah. Dia butuh bersosialisasi dengan lingkungan luar.”
“Urusan Bu Tati cuma menjaga Izza
kalau saya sedang tidak di rumah, tapi bukan mencampuri urusan keluarga kami
lebih dalam. Jangan bawa pengaruh buruk buat Izza.”
“Sebelumnya saya minta maaf, Maya.
Tapi apa tidak sebaiknya Izza dibiarkan saja dengan pilihannya sendiri? Menurut
saya Izza udah cukup dewasa untuk menyikapi masalah-masalah dalam hidupnya.”
“Memangnya saya minta pendapat Bu
Tati? Izza itu anak saya, saya tau apa yang terbaik buat dia. Bu Tati ngga usah
ikut campur karena saya ngga akan pernah merubah keputusan.”
“Izinkan saya untuk ketemu dengan
Izza. Saya hanya ingin melihat keadaannya saja.”
“Sudah saya bilang kalau Izza
baik-baik aja dan ngga ada yang perlu kamu khawatirkan. Cepat pergi dari rumah
saya sebelum ada masalah-masalah baru lagi!”
“Baik, Maya, tapi satu hal yang
kamu harus ingat. Bukan cuma kamu yang mau dimengerti, tapi anakmu juga.”
Sampai di suatu waktu, di mana
semua orang penuh sesak, tak terkecuali mama Izza dan bu Tati, ikut melengkapi
suatu acara yang sakral dan khidmat. Terlihat sekelompok ekor burung
mengepakkan sayapnya di atas awan, ikut menghadiri acara yang sepertinya tak
mau dilewatkan oleh setiap orang.
Dengan membawa sebuah keranjang
penuh warna, sekali-sekali bu Tati mengusap air matanya, entah karena rasa haru
atau karena sebab lain. Di sampingnya tengah duduk mama Izza. Dengan berlinang
air mata, ia terus menatap ke satu titik di depannya. Tanah coklat yang masih
basah itu membuat semua tamu tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun.
Hari di mana gadis malang itu tak
lagi dapat menahan beban yang dititipkan Tuhan kepadanya. Ia menyerah dengan
keadaan, menghentikan semua dengan tangannya. Sungguh malang nasib gadis itu,
racun itu telah menghancurkan masa depannya.
“Saya yang harus disalahkan dengan
keadaan ini. Saya terlalu meninggikan ego, tapi tidak memikirkan perasaan Izza.
Saya menyesal...” wanita setengah baya itu tak kuasa menahan tangis, teringat
wajah anak semata wayang yang sangat ia cintai.
“Izza pernah cerita kalau dia
sangat menyayangi kamu, May. Selama ini dia hanya memendam rasa sedihnya karena
ngga mau melihat kamu semakin sedih dengan keluhannya. Izza sering melihatmu menangis
di kamar, tapi dia ngga berani menanyakannya. Namun yang saya tahu, setiap hari
Izza selalu mengatakan sayang pada mamanya di dalam tulisan diary.”
Mama Izza mendapati diary Izza di
dalam laci kamarnya. Ada perasaan haru saat ia membuka diary perlahan. Foto
Izza saat masih kecil bersama mamanya terpampang di halaman depan diary itu. Dengan
usaha meneguhkan hati, mama Izza terus membuka isi diary yang semakin menyedot
perasaannya itu.
“Ingat
masa dulu bersama mama, Izza pengen kaya dulu. Kalau boleh, Izza hanya ingin
menjadi anak kecil mama, masih bisa merasakan hangatnya peluk dan cium mama. Izza
hanya ingin waktu bersama mama, bukan hanya materi. Izza tahu mama berjuang
menjadi ibu sekaligus ayah, tapi Izza ngga mau mama sampai mengorbankan diri
demi Izza. Sekarang Izza hanya bisa bercerita pada diary yang bisa menemani
hari-hari Izza di saat mama ngga ada, tapi kenapa mama ngga memberikan jalan
buat Izza bahagia? Izza kesepian, Ma... Izza butuh orang yang menemani di saat
Izza ingin berkeluh kesah, karena mama ngga ada waktu buat Izza, meski hanya
sehari penuh... Izza sering menunggu mama pulang untuk bertukar cerita, tapi
mama pulang terlalu larut malam, bahkan sampai dini hari. Waktu Izza sarapan
pagi mau berangkat sekolah, mama masih tidur. Padahal Izza ingin sekali sarapan
ditemani mama dengan candaan dan tawa di pagi hari. Tapi semua itu ngga
menyurutkan rasa sayang Izza sama mama, Izza tetap anak mama yang selalu sayang
pada pahlawan wanitaku. Maafkan Izza kalau suatu saat nanti Izza ngga kuat lagi
menyanggah lara dalam hidup. Izza sayang... Izza sayang sama mama....”
“Mama juga sayang sama Izza...
Maafkan Mama, Mama menyesal. Mama ingin Izza ada di sini dan mama janji akan
memberikan yang Izza mau. Mama akan berhenti bekerja dalam dunia gelap, Mama akan
membuat Izza bangga... Katakan apa yang harus Mama perbuat agar kamu kembali
lagi ada di sini? Menjadi anak mama yang manis, sayang...”
Mengapa kisah itu harus berakhir
dengan penyesalan? Di saat semuanya bisa dikatakan terlambat, di saat tidak ada
lagi jalan untuk merubah kekhilafan.